Malam itu aku lagi pengen banget bisa main piano cepet. Akhirnya aku chat guru piano cowok yang badannya atletis, muka mirip oppa Korea. Dia mau datang ke rumah malam-malam, katanya “biar tenang”.
Begitu masuk, dia langsung duduk di sebelahku di bangku piano. Aku pakai crop top putih sama rok mini rajut yang pendek banget. Tiap aku salah tekan tuts, dia pegang tanganku pelan-pelan, benerin jari satu per satu. Napasnya udah berat dari tadi.
Tiba-tiba dia bisik, “Kamu belajar piano kok memeknya basah gini sih?” Aku cuma bisa merem pas jari tengahnya langsung nyusup ke dalam celana dalam. “Konsen ya, mainkan lagu ini dulu,” katanya sambil masukin satu jari… dua jari… sambil aku masih dipaksa tekan tuts piano.
Gak lama, dia berdiri di belakangku, rokku disingkap, celana dalamku diturunin sampai lutut. Kontolnya yang udah keras banget langsung gesek-gesek di memekku yang udah banjir. “Lanjut main pianonya,” perintah dia sambil… jleb! Satu dorongan dalam, aku langsung jerit kecil, jari-jari salah semua tekan tutsnya, bunyinya sumbang.
Dia mulai genjot pelan dulu, sambil pegang pinggulku. Tutup piano jadi sandaran, badanku membungkuk, toketku bergoyang-goyang di atas tuts hitam putih. Makin lama makin cepet, bunyi “plok plok plok” bercampur sama tuts piano yang aku tekan gak karuan. “Desahmu lebih merdu dari lagu ini,” katanya sambil tampar bokongku keras.
Crott pertama dia keluarin dalam-dalam, aku langsung orgasme sambil kaki gemetar, jari masih nempel di tuts do-re-mi yang udah basah keringat. Dia cabut, kontolnya masih setengah tegang, langsung nyuruh aku nyanyi nada dasar sambil nyepong sisa-sisa crottnya.
Selesai les, dia cuma bilang, “Minggu depan kita lanjut materi fingering ya… tapi jari aku, bukan jari piano.” Aku cuma bisa ngangguk lemas, memek masih berkedut-kedut, piano masih bau crott. Kalian mau cuma bisa bayangin… atau langsung nonton biar kontol ikutan berdiri!
